Jeritan Pelaku Usaha Ketika Musim Pageblug Datang

Jeritan Pelaku Usaha Ketika Musim Pageblug Datang

Jeritan Pelaku Usaha Ketika Musim Pageblug Datang

Meutia Layli SE., M.Ak dan Rosa Nimatul Fajri, SE., M.Acc., Ak., CA

 

Jayanya pelaku usaha hampir hilang.

Pasti sebagai society Indonesia sudah dapat merasakan. Pageblug yang dikatakan sebagai tanda akhir zaman perlahan membuat sebagaian usaha yang telah berjalan bertahun-tahun luluh lantah.

Usaha demi usaha sudah dilakukan untuk membangkitkan usaha mikro, menengah dan bahkan keatas dari mulai pemerintah hingga warga RT sekitar ikut campur tangan.

Nampaknya, pageblug ini semakin menjadi.. tiada ampun ……

Eh, guys…. Sebelum dilanjut. Apakah gerangan istilah Pageblug??? Kita samakan persepsi dulu…

Pageblug disini merupakan istilah Bahasa jawa. Memang pageblug hanya satu kata tapi memiliki arti yang cukup panjang yaitu kondisi yang mempengaruhi sampai ke dalam aspek kehidupan lokal. Disisi lain mengatakan bahwa Pageblug atau dalam versi lain dikenal dengan “bageblug” adalah suatu sebutan untuk suatu wabah penyakit yang sedang terjadi. Kata dasar (tembung lingga) dari pagebluk adalah “geblug”. Baik dalam bahasa Jawa maupun Sunda, kata “gebluk” atau “blug” dapat berarti jatuh, tersungkur, tumbang ataupun dapat juga disebut ledakan. Dengan demikian pagebluk menggambarkan suatu kondisi banyak korban berjatuhan, bertumbangan, ataupun jatuh tersungkur yang terjadi secara serentak bahkan berskala luas, yang karena besarnya hal tersebut maka menimbulkan korban yang banyak, sehingga menyerupai arti “gebluk” yaitu ledakan. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pagebluk merupakan suatu istilah lokal yang digunakan untuk menyebut istilah pandemi. Hal ini sesuai dengan kondisi yang diakibat oleh Corona Virus atau yang sering disebut Covid-19… (mungkin karena dimulai 2019 dinamakan Covid-19.. hehe #bercanda)

Oke sekarang udah paham nih… smoga.. mari kita lanjutkan pembahasan Pageblug berdampak pada usaha bagi pelaku usaha.

Pageblug tetap melanjutkan aksinya, hingga tak terasa sudah 2 tahun lamanya….Hingga sedikit demi sedikit pelaku usaha mikro tergilas dan banyak yang menanggalkan bisnis yang telah dirintisnya. Kasihan memang… miris memang…

Hanya kata sing sabar yang bisa terucap oleh beberapa pelaku usaha yang masih mencoba bertahan meski pendapatannya merosot tajam.

Daerah-daerah yang dulunya ramai akan pelaku usaha yang menjajakan semua dagangannya kini berlarut menjadi sepi … sepi dan sepi…

Tidak hanya di Indonesia, bahkan banyak negara yang terdampak akibat adanya pageblug ini. Setiap sektor pasti merasakan perubahan. Sayangnya, bukan perubahan positif, namun perubahan yang negatif. Ya betul, usaha mulai sepi bahkan collaps.

Fakta mengejutkan terjadi dibelahan daerah manapun. Tak terkecuali Yogyakarta yang notabene kota pelajar, kota wisata, kota yang sanggup menjadi tumpuan bagi pelaku usaha untuk memutar roda perekonomiannya. Bahkan ada yang sampai menghasilkan milyaran rupiah dari sektor usaha ini.

Hal ini termuat dalam koran Sindo, bahwa

  1. Dampak yang luar biasa terjadi pada dimana salah satu kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang bergerak di bidang usaha menengah-kecil (UMK) dan usaha menengah-besar (UMB). Lebih dari 80 di antara mereka mengalami penurunan pendapatan.
  2. hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 34.599 responden pelaku usaha kecil dan menengah yang terkena dampak pandemi virus Covid-19 selama 10–26 Juli 2020. Dari daerah di seluruh Tanah Air yang disurvei, kondisi paling memprihatinkan yang dialami pelaku usaha terjadi di Bali, DI Yogyakarta, Banten, dan DKI Jakarta
  3. berdasarkan survei, 84% pelaku UMK mengalami penurunan pendapatan, sedangkan UMB sebanyak 82%. Kondisi tersebut terjadi akibat penjualan sepi.
  4. Faktor lainnya karena rekan bisnis mereka juga terdampak pandemi. Kendala lain yang mereka hadapi adalah kesulitan keuangan terkait pegawai operasional.

Adapun secara sektoral, sektor akomodasi, makanan dan minuman paling terdampak kondisi yang saat ini. Sektor jasa lainnya, transportasi dan pergudangan juga mengalami kondisi yang sama.

Pageblug belum usai kawan.. mari tetap waspada tetap bersenang tetap berikhtiar…

Jangan mau terkalahkan dan menyerah dengan pageblug..

Ayolah bangkit UMKM Indonesia….

Ini sekedar slogan yang biasa disiarkan di media social baik para palaku usaha maupun warga …

Jika diambil dari sisi positifnya si pageblug ini jelas-jelas membawa dampak agar para pelaku usaha tidak stag dan meratapi nasib .. tapi bangkit dan melakukan perubahan.

Contohnya jika selama ini jualan hanya dilakukan secara offline dan pelanggan harus datang ketempat dimana berjualan, hendaknya kini beralih kita sebagai pelaku usaha yang jemput bola, genjar promosi, lalu secara cepat belajar dan melirik segalanya ke dunia Online.

Kalau istilah warga asing (JEPANG) kini kita berada di era 5.0…..

Era 5.0 yang telah beredar memiliki arti bahwa era ini menyatakan semua berpusat pada manusia yang membuat seimbang antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat menghubungkan melalui dunia maya dan dunia nyata.

Menurut perdana menteri Jepang, Shinzo Abe menjelasakan dalam World Economic Forum (WEF), “Di society 5.0 itu bukan lagi modal, tetapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi akan mencapai desa-desa kecil.”

Dimana dapat disipulkan, dengan era 5.0 sosial media yang menunjang aktivitas dari mulai membeli bahan baku sampai dengan media pemasaran sudah tersedia disana.. dan kita dipaksa secara halus menyesuaikan diri

Mimin sebagai pnulis ingin membagikan kisah nyata yang dialami Ketika meintis usaha ditengah pageblug yang baru saja melanda… semua usaha terkesan melambat..

Yakinlah semua akan ada jalan keluanya. Seperti yang telah ada kita sebagai pelaku usaha bisa mencoba mengadopsi bisnis digital.

Langkah pertama, jika usaha kita ini dulunya offline, kita bisa membuat website pribadi tanpa modal.. kok bisa tanpa modal, bisa saja… Tututan ini bisa kita atasi jika kita telah mempelajari cara membuat website kepada mentor atau kepada secara otodidak yang dipandu lewat youtube, buku, atau media lainnya.

Setelah website jadi. Bisa saja mulai merambah secara otodidak mempelajari cara membuat tampilan website tersebut menarik. Misalnya saja yang bisa disebutkan disini gimana sih cara membuat shoot foto yang menarik untuk menawarkan produk yang kita jalankan.

Nah disini akan berbagi tips sedikit menurut beberapa pakar untuk mendukung aksi pertama….. simak baik-baik..

Yuk kita mulai ….

  1. Buatlah dengan konsep yang sederhana
  2. Gunakanlah pencahayaan alami
  3. Berikan space atas foto produk yang difoto.. kanan, kiri, atas dan bawah harus proporsional

Langkah kedua, bisa bekerjasama dengan Gojek, Grab,Maxim dan yang terbaru adalah Shopee food

Langkah ketiga, menggunakan media pemasaran seperti Google ads yang memiliki kecenderungan fitur lengkap. Google ads juga menyediakan seleksi lho dalam penayangan pemasaran yang anda buat

Langkah keempat, melalui marketplace yang disediakan oleh Facebook. Hal ini paling mudah dilakukan karena anda pelaku bisnis hanya membuat akun Facebook dan secara otomatis bisa menggunakan layanan marketplace. Dalam marketplace sama dengan pembuatan website dimana pengaturan shoot foto mempengaruhi ketertarikan konsumen dengan iklan yang anda buat.

Mimin, harap ini menjadi solusi bagi pelaku bisnis yang hendak mengdopsi industry 5.0 yaitu offline market menjadi digital market.

Semoga sukses dan lancer dalam pengembangan dan mempertahankan usaha yang tengah digarap. See youu

Open chat