Resesi 2023? Ini Resiko dan Penyebabnya

Resesi 2023? Ini Resiko dan Penyebabnya

Photo by MART PRODUCTION

Oleh : Agfa Oktaviana | 193200037

S1 Ekonomi Syariah Alma Ata – Bank Dunia mengumumkan akan terjadi risiko resesi global di tahun 2023, kira-kira apa saja penyebabnya? Sebelum mengetahui itu semua, mari kita bahas terlebih dahulu tentang “Apa itu Resesi?”. Resesi merupakan kondisi saat perekonomian negara sedang memburuk. Berdasarkan penilaian dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), adanya resesi pada suatu negara dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, pengangguran yang meningkat, hingga pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Bank Dunia mencatat, adanya resesi 2023 dipicu oleh keadaan saat bank-bank sentral seluruh dunia secara bersamaan menaikkan menaikkan suku bunga karena adanya inflasi. Inflasi itu sendiri merupakan proses meningkatnya harga secara umum dan terus-menerus, beberapa hal yang menyebabkan adanya inflasi yaitu pada masa Pandemi Covid-19 juga perang Rusia-Ukraina yang menyulitkan rantai pasokan komoditas yang dibutuhkan berbagai negara.

Investor dunia mengharapkan bank sentral menaikkan suku bunga kebijakan moneter global hampir mencapai 4 persen di tahun 2023. Kenaikkan ini memberikan presentase lebih dari 2 poin di atas rata-rata tahun 2021. Kenaikan suku bunga ini dapat membuat tingkat inflasi inti global, tidak termasuk energi, naik hingga 5 persen di tahun 2023, kecuali jika gangguan pasokan dan tekanan pasar tenaga kerja bisa mereda. Jika kenaikan suku bunga disertai dengan tekanan pasar keuangan, pertumbuhan PDB global akan melambat hingga 0,5 persen di tahun 2023. Yang terjadi, akan ada kontraksi 0,4 persen per kapita. Kondisi teknis yang seperti inilah yang dimaksud sebagai resesi global. Selain kenaikan suku bunga, krisis keuangan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang memicu resesi 2023 akan bertahan lama.

Lalu, apa resikonya jika resesi di tahun 2023 terjadi? World Bank Group President David Malpass mengatakan bahwa resesi 2023 beresiko pada pertumbuhan global jadi melambat. Dampak resesi yang dirasakan juga oleh masyarakat seperti kenaikan harga kebutuhan sehari-hari termasuk makanan, pemutusan kerja, kenaikan harga pasokan energi, dan bertambahnya angka kemiskinan. 

Dikutip dari laman World Bank, Malpass mengatakan bahwa pertumbuhan global melambat dengan tajam, dengan kemungkinan perlambatan lebih lanjut karena banyak negara jatuh ke dalam resesi. Malpass juga menambahkan, resesi yang terjadi di tahun 2023 akan ada upaya yang dapat terjadi untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi. “Untuk mencapai tingkat inflasi yang rendah, stabilitas mata uang dan pertumbuhan yang lebih cepat, para pembuat kebijakan dapat mengalihkan fokus mereka dari mengurangi konsumsi ke meningkatkan produksi.” Imbuh Malpass

“Kebijakan harus berusaha untuk menghasilkan investasi tambahan dan meningkatkan produktivitas dan alokasi modal yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan,” Sambungnya. World Bank Acting Vice President for Equitable Growth, Finance, and Institutions Ayhan Kose menjelaskan, pengetatan kebijakan moneter dan fiskal akhir-akhir ini telah membantu mengurangi inflasi. Kondisi yang terhubung di seluruh negara dapat saling memperparah dalam kondisi keuangan dan mempertajam perlambatan pertumbuhan global. Untuk itu, diperlukannya komunikasi antarnegara.

Ia juga menjelaskan, upaya bentuk antisipasi resesi 2023, para pembuat kebijakan perlu memperkuat cadangan devisa, memberi bantuan pada masyarakat atau keluarga yang rentan, juga memberi fasilitas realokasi pada pekerja yang diputus kerja. Tidak hanya itu, perlu juga percepatan transisi ke sumber energi rendah karbon, pengenalan langkah konsumsi energi, serta penguatan jaringan perdagangan global agar tidak terhambat. 

Sumber : https://www.detik.com